Tiga hari ini berat sekali! Mengetahui fakta baru yang menyedihkan dan membuat hati terpelintir luar biasa. Akhirnya aku harus menghapus jejak seorang manusia yang pernah bersinggungan dengan garis hidupku. Dia yang namanya tak boleh disebut, yang menunjukkan wajah aslinya sekarang. Jadi yang kemarin-kemarin itu apa? Ah sudahlah, tidak ada yang kemarin-kemarin. Aku berjuang sendiri dan pendampingku cuma tiga, Tuhan, keluarga, dan beberapa teman dekat, bahkan yang terdekat saja.
Aku tak kuasa menahan luapan kesedihan yang sepertinya membuat aku terguling mencoba menahan arus rasa sakit yang kurasakan di hati. Aku kembali mempertanyakan satu kebingungan pada Tuhan. “Tuhan, benarkah Kau melahirkanku ke dunia?”. Lalu aku puaskan sesak di dadaku untuk keluar bersama laju air mata yang menderas.
Lalu aku bicara pada Tuhan di setiap doa, di setiap malam, pagi, siang, dan saat matahari terbenam. Aku bicara pelan-pelan padanya, “Tuhan, Kau lihat sendiri, aku payah mengurus hatiku. Karena aku terlalu gegabah, akhirnya ia jatuh sakit lagi. Kali ini aku serahkan saja padamu ya? Seluruh jiwa, raga, pikiran dan semua tindakanku. Engkau saja yang mengurus ya? Ini kuberikan hatiku seluruhnya, seutuhnya, untuk-Mu”.
Tahukah apa yang terjadi setelahnya? Aku merasa jauh lebih ringan, jauh lebih tenang. Aku melihat dan mendengar penghiburan. Aku merasa dipeluk dari segala penjuru. Aku tidak sendirian. Dan Tuhan memang di sana. Ada di dalam diriku sendiri. Ia berbicara, saat aku membuka hatiku dan menyerahkannya untuk dijaga oleh Beliau.
Rumi benar adanya, aku harus membuka hati dulu untuk menerima penghiburan dan kekuatan dari yang Maha Cinta, Sang Penjaga yang ternyata bersemayam di dalam organ yang sedang sesak saat ini. Tuhan di sana, menungguku bangun dan menerima kehadiran-Nya. Lalu aku patah hati, dan Tuhan masih bersemayam di sini, di dalam sesak dan diantara malam-malam yang sunyi.
kadang obat patah hati paling mujarab adalah menangis satu hari saja mengutuki cukup sehari saja dan melepaskan semuanya untuk selamanya. melepas untuk diikhlaskan.. hmm.. ini hanya pemikiran saya, karena terkadang setiap orang treatment nya beda-beda..
enihoo, semangat!
There’s no other way, memang sepertinya harus begitu. Kalau kata Gamila Arif: “Dikecewakan orang memang sudah jaminan hidup di dunia ini. Hampir sama pastinya dengan kematian. Siapkan mental dan lagu-lagu sendu.” Hihi.. tapi masa berkabung sudah lewat, sekarang saatnya masa karaoke lagu upbeat! Makasi Nona Wulan.. Stay happy yaaaah!
Wow! senang dengernya! Stay happy, stay healthy, stay stunning! hahaha.. #halah
High Five!