Hari ini di kelas, kami mendiskusikan essay karya Burton, The Anatomy of Melancholy, dan entah kenapa reaksiku malah “Ini kenapa sih tiap mata kuliah kok bisa tahu suasana hatiku begini!” Hihi Geer banget. Kemarin belajar tentang Adversity, essay karya Francis Bacon ketika aku sering dilecehkan segelintir orang India tak berpendidikan di jalan dengan sebutan “Cimpong”, sebuah sebutan untuk mengejek ras diluar bangsa India. Dan sempat dibahas di kelas ketika ada salah seorang dosen yang menanyakan jika di kelas kami ada yang pernah mengalami diskriminasi ras. Aku bercerita ‘Cimpong’ itu dan dosenku langsung memerintahkan seluruh kelas untuk menjagaku, menemaniku, mengajakku ngobrol. Hahaha.. berlebihan sih, tapi aku jadi terharu, thank’s Seemeen Hasan Ma’am!
Memang keberagaman seharusnya dirayakan, karena dari keberagaman kita bisa menemukan bermacam keajaiban dan keindahan. Yang masih rasis berarti ketinggalan zaman tuuuh! :p
Nah, di essaynya Mas Burton (sok kenal banget, hehe), dia menuliskan salah satu sebab melankoli (kesedihan). Ia menjabarkan bahwa Tuhan dapat menjadi penyebab ketidakbahagiaan. Aku langsung mengernyitkan muka. Bukankah Tuhan seharusnya selalu baik?
Jadi penyebab ketidakbahagiaan ada dua supernatural cause and natural cause. Natural cause ini adalah ketidakbahagiaan karena hal-hal yang bersifat duniawi, seperti flu, demam, atau penyakit lain yang masih bisa disembuhkan dengan pengobatan medis. Nah, kalau supernatural cause ini bersumber dari kemurkaan Tuhan. Tuhan murka karena hamba-Nya berpaling dari perintah-Nya maka ia menurunkan penyakit atau kesedihan kepada hamba yang ingkar tersebut. Ternyata Tuhan bisa marah juga! (Menurut Burton yaah..). Uniknya, Supernatural cause ini gak bisa disembuhkan dengan pengobatan medis, ia cuma bisa sembuh kalau kita berhadapan langsung tête-à-tête (bicara empat mata) dengan Tuhan sendiri.
“Supernatural are from God and his angels, or by God’s permission from the devil and His ministers. That God Himself is a cause for the punishment of sin..” Begitu kiranya petikan dari Burton. Ia memaparkan contoh, yaitu Sodom dan Gomorrah yang diberi azab karena dosa-dosa mereka dan perilaku seksual yang bertentangan dengan perilaku yang diperkenankan Tuhan, lalu Apollo (Dewa yang disebut anak Tuhan menurut mitologi Yunani) yang mengirim halilintar karena kuilnya di Delphi diusik Xerxes. Tuhan berhak marah ketika perintah-Nya tidak dipatuhi. Kemarahan Tuhan itulah yang menyebabkan kesedihan, kesakitan, dan ketidakbahagiaan atau melankoli.
Aku pun bertanya di dalam hati, “Kok Tuhan pemarah sih? Bukankah seharusnya Ia Maha Baik dan selalu Baik?”. Karena jadi tak tenang kudatangi ruang Seemeen Hasan Ma’am seusai kelas untuk bertanya, “Why does God possess the emotional quality of human beings? Didn’t even Bible tell us that God is good? Then if He can get angry like us, human beings, He is good and bad at the same time, isn’t He?”
Dosenku tersenyum, lalu menjawab, “God is always good, and yes He can get angry. But God’s anger is not like human beings’. His anger occurs for the sake of correction. He delivers his anger to correct human’s wronged behaviour. He is good and corrective at the same time.”
Dan aku kembali lega. Tuhan tidak jahat. Ia hanya ingin kita membenarkan kesalahan yang kita perbuat. Makanya Ia berhak ‘ngambek’ dan memberikan kesedihan kepada kita. Tapi begitu kita kembali dan berdoa kepada-Nya, Ia langsung memeluk kita. Ia bukan Tuhan yang baik dan jahat di saat yang bersamaan, Ia baik dan sering mengoreksi dan membimbing kita ke jalan yang seharusnya kita lewati dengan menaburkan sedikit kesedihan. He causes melancholy, but it is His persuasion to drag us back to the right track. Dan kita mesti ingat, kalau sudah berhubungan dengan teguran Tuhan, satu-satunya obat adalah menghadap-Nya, berdialog berdua dengan-Nya, karena Tuhan rindu, Tuhan menunggu.
Tuhan selalu baik. Tuhan menegur kita dengan caranya, yang kebanyakan dari kita mengira itu adalah kemarahan Tuhan.
Iiih, seneng bisa belajar tanpa sengaja lewat tulisanmu
Iya ya, Nona.. Harusnya bukan ‘kemarahan’ Tuhan, tapi ‘teguran’-Nya.
Jadi tambah lega dan tenang, God is good and will always be..
thanks ka buat sharingnya. uni jd punya ilmu tambahan setelah baca postingannya
wah wah senangnya..
semangat uniiii..