Pada Suatu Siang

22 Jun

Jantungku berdegup. Hampir nafasku berhenti selama sepersekian detik. Akubtidak tahu menunggu bisa sebegini menegangkan. Sementara itu burung gagak di seberang tempatku duduk masih saja asyik mengorek sampah. Angin panas menerpa wajahku yang sudah lelah karena udara panas dan hati yang cemas. Alangkah beratnya hati dan lucunya, gagak-gagak itu masih saja tenang dan tidak peduli. Kadang aku ingin menjadi gagak. Bukan karena ia bisa dengan cuek mengobrak-abrik sampah tanpa repot-repot terjangkit diare. Tapi karena gagak begitu acuh pada udara panas dan waktu yang molor menjadi dua kali lipat lebih panjang saat menunggu. Aku jadi terpikir, pernahkah gagak menunggu?

“Nona, kau menunggu loket nomor enam dibuka, bukan?” Seorang bapak menghampiriku. Seketika semua lamunan buyar dan aku kembali sadar. Aku masih duduk di sisi trotoar, di depan gedung tua keemasan yang sepertinya menjadi wakil matahari untuk memancarkan kilaunya yang terang benderang.

“Iya, apakah loketnya sudah buka?”
“Sebentar lagi dibuka, kau harus bersiap menunggu di sana dan menyerahkan semua berkasmu. Loket hanya dibuka sejam dan antrian akan mengular beberapa menit lagi. Pastikan semua berkas yang harus diberikan lengkap.”

Aku ternganga. Tak kusangka ditengah rasa cemas yang membuat dada sesak aku menemukan ketenteraman. Oase ini muncul di siang puncak musim panas India dalam bentuk seorang bapak. Bapak berbaju khaki itu sepertinya salah satu penjaga di gedung ini.

“Terimakasih banyak atas informasinya.”

“Tidak apa-apa, Nona. Kau mengingatkanku pada anak gadisku di rumah. Kulihat kau datang seorang diri dan kelelahan. Itu saja yang bisa kubantu. Sana, bergegaslah ke loket dan isi antrian pertama.” Bapak itu tersenyum. Senyum yang seperti telaga. Sejuk di siang yang panas ini, namun juga menghangatkan hati yang gelisah dan beku.

Aku mulai menempati jalur antrian. Satu, dua, aku berdiri di urutan ketiga. Kugenggam map plastik anti airku dengan erat. Semua dokumenku tersimpan di sana. Aku tidak ingin berkas itu kotor apalagi hilang.

Beginilah tuntutan menjadi lulusan universitas di India. Setumpuk birokrasi harus ditempuh demi mendapatkan tanda keabsahan ijazah dan transkrip setelah susah payah menempuh semua perkuliahan dan ujian yang menguras pikiran. Sebagai lulusan salah satu universitas di Aligarh, Uttar Pradesh, aku harus menempuh perjalanan 340 km ke ibukota state, Lucknow, untuk mendapatkan legalisir ijazah dan transkrip.

Setelah beberapa menit menunggu, loket pun dibuka. Ponselku berbunyi. Dari operator ponsel. Ah, kenapa operator telepon seluler selalu menelepon di saat aku sedang repot sih, rutukku dalam hati. Kumatikan saja. Daripada kesal.

Orang kedua di antrian ini sedang beradu argumen dengan pegawai yang menangani berkasnya. Aku menarik nafas. Berharap berkasku lengkap dan bisa segera dilegalisir. Teriakan pegawai loket dan orang di depanku semakin meninggi. Jantungku berpacu. Kukirim doa ke langit agar semua urusan lancar.

Tiba giliranku. Kuserahkan berkas-berkasku pada pegawai loket. Semenit, dua menit, dia terlihat mengecek dan meneliti kelengkapan dan keaslian semua dokumen. Lalu dengan wajah agak masam berkata, “legalisirmu bisa diambil sore nanti, pukul lima.” Lega sekali rasanya. Aku mengucap terimakasih pada si Bapak, lalu keluar antrian dengan gembira.

Kulangkahkan kaki kembali ke tempatku menginap. Karena ini bulan ramadan dan ditambah lagi sedang puncak musim panas, aku hanya ingin berteduh dari hujan sinar matahari yang menderaskan peluhku. Kupanggil becak setempat untuk mengantarku ke penginapan. Sepanjang perjalanan kulihat pedagang kudapan khas India, pani puri, dijejali pelanggan yang butuh makan siang.

Becakku melewati beberapa deretan kedai yang menjual makanan untuk santap siang pegawai kantor setempat yang mayoritas beragama hindu. Mereka berjejalan menikmati masala dosa, aloo paratha, serta samosa dan menyesap minuman bersoda dingin sambil bertukar cerita dengan rekan-rekannya. Mataku terpaku pada minuman bersoda dingin itu. Rasanya pasti amat menyegarkan. Aku menepuk dahiku, menertawakan khayalan menyenangkan untuk minum minuman dingin di tengah dahaga puasa.

Setelah melewati beberapa blok perkantoran, taman dan deretan rumah makan muslim, aku tiba di penginapanku. Dengan tergesa kupercepat laju menuju kamarku untuk mandi udara dingin AC. Klik. Pintu terkunci. Kurebahkan tubuh letihku di kasur. Ah, lega sekali rasanya. Mataku menjadi berat, seperti diberi beban berkuintal-kuintal. Jendela bergoyang dahsyat, seperti ada gempa! Kamar ini menjadi pusaran warna dan tiba-tiba aku berlari. Ada yang mengejarku!

“Hei, jangan lari kau!” Ada yang mengejarku! Tempat apa ini? Kenapa aku ada di sini? Aku takut tertangkap. Dalam kebingungan yang memabukkan, kupercepat lariku.

Di samping kiri dan kanan bayangan berkelebat. Hitam, terbang, cepat sekali mereka melesat. Aku merasakan sebutir keringat menelusuri punggungku. Dingin. Terdengar gemericik air dan suara klik mekanik yang aneh. Aku bersembunyi. Kakiku sudah memberontak karena terlalu letih diajak berlari. Ada sebuah batu besar yang menghalangi sebuah pagar menuju reruntuhan bangunan yang seperti kastil.

Aku masuk. Kucium bau lembab dan apak memenuhi ruangan. Suara air terdengar semakin deras. Deras sekali di dalam sini. Seperti ada air terjun tersembunyi. Aku maju beberapa langkah. Menuju sebuah ruangan kosong. Bau apak. Debu berseliweran seiring langkah kakiku yang menerobos gunungan debu yang telah menggunung. Anehnya suara air terdengar semakin deras, anehnya bunyi klik mekaniknya menghilang. Ruangan ini besar sekali. Tampak sangat mengundang.

Ruangan ini sejuk sekali. Yang kuingat rasa sejuk seperti ini hanya pernah kutemui di dua tempat. Bukit Bondowoso di tanah Jawa sana dan di teduhnya doa ibuku.

Kuteruskan langkah ini dengan sedikit takut. Pengejarku bisa saja tiba-tiba menyergap dari sampingku. Ruangan ini gelap. Hanya tercium bau apak dan debu yang berseliweran memblok pernafasan.

Hujan. Hujan deras di sini. Aku tidak menyangka hujan bisa turun di dalam ruangan yang gelap. Tidak tampak sinar matahari dari celah jendela mana pun di sudut-sudut tempat misterius ini. Tapi hujan. Aku takut. Rasa takut menyergapku lebih cepat dari si pengejar.

Aku mencari sinar apa pun. Aku butuh cahaya. Apakah tempat ini tidak punya jendela? Tidakkah ada seberkas cahaya yang menerobos pori-pori temboknya? Kepalaku pusing sekali. Tiba-tiba hujan mulai membasahi pelipisku. Bukankah aku berteduh dari hujan ini? Mengapa tiba-tiba deras dan basah di atas kepalaku? Tuk tuk tuk klik klik klik klik. Kepalaku seperti dipatuk. Aku memejam. Ingin segera bangun dari mimpi buruk ini.

Seketika bau apak berganti bau sampah yang menyengat. Kuhirup dalam-dalam. Ada bau makanan di dalam bau yang sungguh busuk ini. Aku lapar. Sangat lapar. Kubuka mataku pelan-pelan. Hujan sudah reda. Gelap tidak lagi terlihat. Kini cahaya matahari memenuhi seluruh penglihatanku. Terang sekali. Dan ada bau makanan. Itu dia! Remah-remah capati dan dal yang sudah menghitam dipayungi jamur memanggilku. Kuarahkan paruhku menujunya. Am! Lezat sekali rasanya.

“Mimpi jadi manusia lagi kau rupanya?” Greg menertawaiku yang ketiduran di tengah makan siang kami: di tempat sampah seberang gedung otoritas pemberi legalisir ijazah.

“Kau tahu, Lucknow sedang panas-panasnya. Gagak mana pun bisa ketiduran dengan mudah.”

Memulai Perjalanan Baru

17 Jun

Setelah merasakan menjadi seorang istri selama sebulan, dengan rasa syukur kepada Allah aku ingin berteriak gembira…………!!!

Ada makhluk asing di tubuhku. Waaah… Kukira kehamilan adalah hal yang tak secepat ini datang. Tapi, ya, aku hamil. Usia kandunganku masih berumur beberapa minggu, tapi aku sangat menyayanginya. Menyayangi calon nyawa suci ini. Semoga sehat dan lancar selalu ya, Nak.

Kadang aku dikejutkan dengan sensasi mabuk yang membuatku mengepal menahan mual. Atau reaksi tubuh yang lebih malas dari biasanya. Rasanya sulit sekali bangun dan beraktivitas dengan heboh seperti biasanya. Ketika kupaksakan, tubuhku jadi lemas seperti akan pingsan. Ajaib sekali. Atau pagi-pagi buta tiba-tiba saja tanganku sibuk meracik sambal rujak. Tapi syukurlah, suami dan orang-orang rumah sangat baik, ketika aku menginginkan sesuatu, mereka akan dengan sigap mencari makanan apa pun yang sedang kuingini itu. Saat itu juga. Hihihi.. terima kasih banyak semuaa!

Ini adalah perjalanan baru yang kuharap selalu lancar dan meski penuh tantangan, harus bisa membuatku berhenti menjelmai anak-anak yang hobi merajuk. Aku harus kuat, harus sehat dan harus lebih memperhatikan makanan. Padahal baru saja menginginkan makan mie instan, tapi mesti kutahan. Paling tidak sampai malaikat kecil ini dapat kutimang. Sehat dan kuat bersama Ibu ya, Sayang. Kecup manis peluk erat dari Ibu buat kesayangan di dalam sana.

Sun Goes Down

20 Apr

To love your soul
Will never be enough
But
This insanity of love
Soothes my poor torn soul
I love you
I know it is still not enough
So
I
Love
You
Untill it suffices

Eight Hours

16 Apr

I never imagined, my dear,
The span of eight hours
Can leave my heart holy
And crave for some soothing manuscripts
When the hour hits its eighth steps
I witness my silent scream starts dividing the morning sky
I know, my dear, I will never measure future with any coffee or coke spoon
But the idea of losing you
Kills
And now I am
The dwellers of the dead-land
It is suffocation, you know, my dear,
To lose your voice within this long deadly span of
Eight straight hours

Excuses

16 Apr

Transition is a thin line
That connects my dream and real life
I am trapped, my hands are tangled
My feet freeze, my eyes covered
Yet I still can sense the color of dusts
Grey and faithful, although tiny and light
I look up at the sky, to look for any sign to run
But I find no option
Unless to stop and whine

Mount Despondency

16 Apr

I miss the feeling
Rain creates everytime
It free falls and touches my roof
I retreat to rejoice the tranquility
Each drop of water produces
Now the feeling is replaced
By teardrops that touch my face
Every sun-up
My face will be cloudy
And the anxiety
Takes control, as if reality were nightmare
The pain is sometimes too unbearable
I imagine my self bathed in red
But I, too, feel life still worth to be lived
Where are you?
Where does every hideous peace reside?
At new lonely hills
I munch my worries
While reading God’s command
To trust Him
While I lost my trust in me

Preambule

16 Apr

In the rise of starking nothingness that human being might feel in their phases of transition, I celebrate this gloomy ambience with poems. I compose the poems during my personal term of transition from academic life to professional path and from a single woman to a new marrital journey. The poems carry their own shift from despair to love, from sadness to glee. You can breathe the air of relief, though, since they are no such thing as binary opposition of sadness/happiness or dark/light, heavy/light, and so on. I hope you can enjoy my art under the hashtags of #transitionalpoem and #celebratingmelancholy. Have a good day, fellas!

Hugs,

Ayu

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

Catatan Pinggir

Bahasa | Rasa | Makna

unidzalika

Di Sini Menyimpan Beberapa Rahasia yang Sebelumnya Tidak Kamu Ketahui

The Floating Library

The Library is Open...

CeuksimangAdé

Soliloquy dalam Catatan Kecil

A Sanctuary

Explore the beauty of Indonesia. Go to places where people don't know your language

catatan acturindra

sekelumit cerita penolak lupa

nengayuu

My life is a miniature of a gigantic roller coaster

Lampu Merah

Galeri Foto dan Sajak

missbrightsunn.wordpress.com/

Be Bright Like a Sun!

Let's Thinking...

Cogito Ergo Sum!

bugurufunky

and her funkier students

arnellis

menjadi murid sepanjang hari

IMAJID DIFFA

saat saya dan aku menjadi dua kata yang berbeda makna

koprolkata

::: djoempalitan :::

selusinpuisi

menunggu sesuatu. atau seseorang.

MERAYAKAN SUNYI DALAM SEMBUNYI

Menulis Barangkali Puisi: Menempuh Jarak Terjauh. Masih Tak Sampai. Ke Tempat Pulang.

nugrahaditya

Pecandu cerita paruh waktu

RADITYA Nugi

Melangkah dalam kata-kata

Peace of Mind

lessons I learn in life, through life.

moviriana

a full time daydreamer

De Reizen

Merekam Perjalanan dalam Tetes Tinta Hitam

adhytyasegara's Blog

cuma coretan biasa. jadi #raksahmbokpikir

tawalife

everything is gonna be okay

Putra Zaman

mengeja rasa, mengejar asa

Perahu Kayu

berlayar dengan cinta, berlabuh dengan rindu

#FDCG

SEBUAH CATATAN TENGIK ANAK TEKNIK

Words of 'Poetica'

Room to Write, Room to Express Thoughts

Dream Bender

mari kendalikan mimpi